0
Dikirim pada 09 Juni 2015 di makalah

Perkembangan Agama Pada Masa Remaja

  1. Pendahuluan

Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat.

Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa: Juvenilitas (adolescantium), pubertas dan nubilitas.

Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut. untuk lebih jelasnya mengenai bagaimana perkembangan agama pada masa remaja akan saya bahas dalam makalah ini.

 

  1. Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud masa remaja itu?
  2. Bagaimana perkembangan agama pada masa remaja?
  3. Apa saja faktor-faktor yang mengindikasi perkembangan agama pada masa remaja?
  4. Bagaimana ciri-ciri kesadaran beragama pada masa remaja?
  5. Bagaimana sikap remaja dalam beragama?

 

  1. Pembahasan
  1. Pengertian Masa Remaja

Sebenarnya masa remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa. Atau dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai usia dewasa. Anak-anak jelas kedudukannya. Yaitu yang belum dapat hidup sendiri, belum matang dari segala segi, tubuh masih kecil. Organ-organ belum dapat menjalankan fungsinya secara sempurna. Hidupnya masih bergantung pada orang dewasa, dan belum dapat diberi tanggung jawab atas segala hal.

Masa dewasa juga jelas. Pertumbuhan jasmani telah sempurna, kecerdasan dan emosi telah cukup berkembang. Akan tetapi, lain halnya dengan masa remaja. Jika dilihat tubuhnya, dia telah seperti orang dewasa, jasmaninya telah jelas berbentuk laki-laki atau wanita. Organ-organnya telah dapat pula menjalankan fungsinya. Dalam hidupnya mereka ingin berdiri sendiri, tidak bergantung lagi kepada orang tua atau orang dewasa lainnya, akan tetapi mereka belum mampu bertanggung jawab dalam soal ekonomi dan sosial.[1]

  1. Perkembangan Agama Pada Masa Remaja

Segala persoalan dan problema yang terjadi pada remaja-remaja itu, sebenarnya bersangkut-paut dan barkait-kait dengan usia yang mereka lalui, dan tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan di mana mereka hidup. Dalam hal itu, suatu faktor penting yang memegang peranan yang menentukan dalam kehidupan remaja adalah agama. Tapi sayang sekali, dunia modern kurang menyadari betapa penting dan hebatnya pengaruh agama dalam kehidupan manusia, terutama pada orang-orang yang sedang mengalami kegoncangan jiwa, dimana umur remaja terkenal dengan umur goncang, karena pertumbuhan yang dilaluinya dari segala bidang dan segi kehidupan.[2]

  1. Masa Remaja Awal (13-16)

Pada masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat, sehingga memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran. Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada umur sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada tuhan kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang menjadi berkurang yang terlihat pada cara ibadanya yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang malas. penghayatan rohani cenderung skeptis sehingga muncul keengganan dan kemalasan untuk melakukan berbagai kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.

Kegoncangan dalam keagamaan ini mungkin muncul, karena disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan matangnya organ seks, yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun di sisi lain ia tahu bahwa perbuatannya itu dilarang oleh agama. Kondisi ini menimbulkan konflik pada diri remaja. Faktor internal lainnya adalah bersifat psikologis, yaitu sikap independen, keinginan untuk bebas, tidak mau terikat oleh norma-norma keluarga (orangtua). Apabila orangtua atau guru-guru kurang memahami dan mendekatinya secara baik, bahkan dengan sikap keras , maka sikap itu akan muncul dalam bentuk tingkah laku negatif, seperti membandel, oposisi, menentang atau menyendiri, dan acuh tak acuh.[3]

  1. Masa Remaja Akhir (17-21)

Masa remaja terakhir dapat dikatakan bahwa anak pada waktu itu dari segi jasmani dan kecerdasan telah mendekati kesempurnaan. Yang berarti bahwa tubuh dengan seluruh anggotanya telah dapat berfungsi dengan baik, kecerdasan telah dianggap selesai pertumbuhannya, tinggal pengembangan dan penggunaannya saja yang perlu diperhatikan.

Akibat pertumbuhan dan perkembangan jasmani, serta kecerdasan yang telah mendekati sempurna, atau dalam istilah agama mungkin dapat dikatakan telah mencapai tingkat baligh-berakal, maka remaja itu merasa bahwa dirinya telah dewasa dan dapat berpikir logis. Di samping itu pengetahuan remaja juga telah berkembang pula, berbagai ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh bermacam-macam guru sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing telah memenuhi otak remaja. Remaja saat itu sedang berusaha untuk mencapai peningkatan dan kesempurnaan pribadinya, maka mereka juga ingin mengembangkan agama, mengikuti perkembangan dan alur jiwanya ynag sedang bertumbuh pesat itu.

Kendatipun kecerdasan remaja telah sampai kepada menuntut agar ajaran agama yang dia terima itu masuk akal, dapat difahami dan dijelaskan secara ilmiah dan orisinil, namun perasaan masih memegang peranan penting dalam sikap dan tindak agama remaja.

Diantara sebab kegoncangan perasaan, yang sering terjadi pada masa remaja terakhir itu adalah pertentangan dan ketidakserasian yang terdapat dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Disamping itu, yang juga menggelisahkan remaja adalah tampaknya perbedaan antara nilai-nilai akhlak yang diajarkan oleh agama dengan kelakuan orang dalam masyarakat. Terutama yang sangat menggelisahkan remaja, apabila pertentangan itu terlihat pada orangtua, guru-gurunya di sekolah, pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh agama. Banyak lagi faktor yang menggoncangkan jiwa remaja, seyogyanya guru agama dapat memahaminya, agar dapat menyelami jiwa remaja itu, lalu membawa mereka kepada ajaran agama, sehingga ajaran agama yang mereka dapat itu, betul-betul dapat meredakan kegoncangan jiwa meraka.[4]

  1. Faktor-Faktor Yang Mengindikasi Perkembangan Agama Pada Masa Remaja

Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut  W. Starbuck adalah:

  1. Pertumbuhan pikiran dan mental

Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Menurut penelitian Allport, Gillesphy dan Young menunjukkan bahwa 85% remaja Katolik Romawi tetap taat menganut ajaran agamanya, dan 40% remaja Protestan tetap taat terhadap ajaran agamanya. Dari hasil ini dinyatakan bahwa agama yang ajarannya bersifat konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya.

Sebaliknya agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang perkembangan pikiran dan mental remaja sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya.

  1. Perkembangan Perasaan

Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis dan estesis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Sebaliknya bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual.

  1. Perkembangan Sosial

Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya perkembangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis.

  1. Perkembangan Moral

Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para remaja juga mencakupi:

  1. Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
  2. Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
  3. Submissive, merasakan adanya keragauan  terhadap ajaran moral dan agama.
  4. Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
  5. Deviant, menolak dasar dan hokum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.
  1. Sikap dan Minat

Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya).

  1. Konflik dan Agama

Dari sampel yang diambil W. Strabuck terhadap mahasiswa Middleburg College, tersimpul bahwa dari remaja usia 11-26 tahun terdapat 53% dari 142 mahasiswa yang mengalami konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang mereka terima, cara penerapan, keadaan lembaga keagamaan dan para pemuka agama. Hal yang serupa ketika diteliti terhadap 95 mahasiswa, maka 75% diantaranya mengalami kasus yang serupa.[5]

  1. Ciri-ciri Kesadaran beragama Yang Menonjol Pada Masa Remaja
  1. Pengalaman ketuhanannya semakin bersifat individual

Remaja semakin mengenal dirinya. Ia menemukan dirinya bukan hanya sekedar badan jasmaniah, tetapi merupakan suatu kehidupan psikologis rohaniah berupa pribadi. Remaja bersifat kritis terhadap dirinya sendiri dan segala sesuatu yang menjadi milik pribadinya. Ia menemukan pribadinya terpisah dari pribadi-pribadi lain dan terpisah pula dari alam sekitarnya.

Penemuan diri pribadinya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri menimbulkan rasa kesepian dan rasa terpisah dari pribadi lainnya. Secara formal dapat menambah kedalaman alam perasaan, akan tetapi sekaligus menjadi bertambah labil. Keadaan labil yang menekan menyebabkan si remaja mencari ketentraman dan pegangan hidup. Penghayatan kesepian, perasaan tidak berdaya menjadikan si remaja berpaling kepada Tuhan sebagai satu-satunya pegangan hidup, pelindung dan penunjuk jalan dalam goncangan psikologis yang dialaminya.

  1. Keimanannya semakin menuju realitas yang sebenarnya

Terarahnya perhatian ke dunia dalam menimbulkan kecendrungan yang besar untuk merenungkan, mengkritik, dan menilai diri sendiri. Intropeksi diri ini dapat menimbulkan kesibukan untuk bertanya-tanya pada orang lain tentang dirinya mengenai keimanan dan kehidupan agamanya.

Dengan  berkembangnya kemampuan berpikir secara abstrak, si remaja mampu pula menerima dan memahami ajaran agama yang berhubungan dengan masalah ghaib, abstrak dan rohaniah, seperti kehidupan alam kubur, hari kebangkitan dan lain-lain. Penggambaran anthropormofik atau memanusiakan Tuhan dan sifat-sifatNya lambat laun diganti dengan pemikiran yang lebih sesuai dengan realitas.

  1. Peribadatan mulai disertai penghayatan yang tulus

Agama adalah pengalaman dan penghayatan dunia dalam seseorang tentang ketuhanan disertai keimanan dan peribadatan.

Pada masa remaja dimulai pembentukan dan perkembnagan suatu sistem moral pribadi sejalan dengan pertumbuhan pengalaman keagamaan yang individual. Melalui kesadaran beragama dan pengalaman keTuhanan akhirnya remaja akan menemukan Tuhannya yang berarti menemukan kepribadiannya. Ia pun akan menemukan prinsip dan norma pegangan hidup, hati nurani, serta makna dan tujuan hidupnya. Kesadaran beragamanya menjadi otonom subjektif dan mandiri sehingga sikap dan tingkah lakunya merupakan pencerminan keadaan dunia dalamnya, penampilan keimanan dan kepribadian yang mantap.[6]

  1. Sikap Remaja Dalam Beragama

Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu:

  1. Percaya ikut-ikutan

Percaya ikut-ikutan ini biasanya dihasilkan oleh pendidikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Namun demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Setelah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan psikisnya.

  1. Percaya dengan kesadaran

Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalah-masalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin menjalankan agama sebagai suatu lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut-ikutan saja. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18 tahun. Semangat agama tersebut mempunyai dua bentuk:

  1. Dalam bentuk positif

Yaitu berusaha melihat agama dengan pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal-hal yang tidak masuk akal. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bid’ah dan khurafat, dari kekakuan dan kekolotan.

  1. Dalam bentuk negatif

Semangat keagamaan ini akan menjadi bentuk kegiatan yang berbentuk khurafi, yaitu kecendrungan remaja untuk mengambil pengaruh dari luar ke dalam masalah-masalah keagamaan, seperti bid’ah, khurafat dan kepercayaan-kepercayaan lainnya.

  1. Percaya, tetapi agak ragu-ragu

Keraguan kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua:

  1. Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan terjadinya proses perubahan dalam pribadinya. Hal ini merupakan kewajaran.
  2. Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas kenyataan yang dilihatnya dengan apa ynag diyakininya, atau dengan pengetahuan yang dimiliki.
  1. Tidak percaya atau cenderung atheis

Perkembangan ke arah tidak percaya pada tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari masa kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orangtua, maka ia telah memendam suatu tantangan terhadap kekuasaan orangtua, selanjutnya terhadap kekuasaan apapun, termasuk kekuasaan tuhan.[7]

 

  1. Kesimpulan
  1. Masa remaja merupakan masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa. Atau dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai usia dewasa.
  2. Masa Remaja Awal (13-16)

Pada masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat, sehingga memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran. Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada umur sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan.

Masa Remaja Akhir (17-21)

Masa remaja terakhir dapat dikatakan bahwa anak pada waktu itu dari segi jasmani dan kecerdasan telah mendekati kesempurnaan. Remaja saat itu sedang berusaha untuk mencapai peningkatan dan kesempurnaan pribadinya, maka mereka juga ingin mengembangkan agama, mengikuti perkembangan dan alur jiwanya ynag sedang bertumbuh pesat itu.

  1. Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut  W. Starbuck adalah:
  1. Pertumbuhan pikiran dan mental
  2. Perkembangan perasaan
  3. Perkembangan sosial
  4. Perkembangan moral
  5. Sikap dan minat
  6. Konflik dan agama
  1. Ciri-ciri kesadaran agama yang menonjol pada remaja yaitu:
  1. Pengalaman ketuhanannya semakin bersifat individual
  2. Keimanannya semakin menuju realitas yang sebenarnya
  3. Peribadatan mulai disertai penghayatan yang tulus
  1. Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu:
  1. Percaya ikut-ikutan
  2. Percaya dengan kesadaran
  3. Percaya tapi agak ragu-ragu
  4. Tidak percaya atau cenderung atheis

 

  1. Penutup

Demikianlah makalah yang telah kami buat, semoga bermanfaat bagi pembaca dan pemakalah sendiri. Dan semoga apa yang telah kita diskusikan menambah rasa syukur serta menambah iman kita kepada Allah SWT. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna memperbaiki makalah ini dan makalah-makalah kami selanjutnya. Terima kasih.

 



[1] Zakiah, Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hlm. 69-70.

[2] Zakiah, Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hlm. 69.

[3] Syamsu, Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak &Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 204-205.

[4]  Zakiah, Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hlm. 117-119.

[5] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 72-76.

[6] Abdul Aziz, Ahyadi, Psikologi Agama, (Bandung: Sinar Baru Al Gesindo, 1995), hlm. 43-48.

[7] Raharjo, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012), hlm. 36-37.

 



Dikirim pada 09 Juni 2015 di makalah
comments powered by Disqus
Profile

“ Haji/Hajjah Ifa Nadhifah ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 57.922 kali


connect with ABATASA